
ayahku seorang petani ketika usai sujud subuh, sarapan ala kadarnya hasil bikinan ibu di lahapnya. kemudian dia berangkat ke sawah. membajak, menanam, menyiangi. ayahku yang petani itu menghabiskan waktunya disawah dia bangun lebih pagi dari kokok ayam dia berangkat lebih cepat dari pada terbitnya matahari bergumul dengan lumpur bermandikan terik matahari
ayahku yang petani itu suka ria hatinya menyambut musim penghujan seperti sekarang karena hujan menandakan musim tanam tiba dan saat itulah dia tanam semua yang dia punya dengan harapan, tanamannya dapat tumbuh subur, berbuah dengan lebat dia berharap dapat memanen apa yang di tanamnya untuk aku untuk adikku untuk kakakku untuk ibuku
ayahku seorang petani wangi jerami kering yang terbakar mengingatkan aku akan dirinya aroma lumpur sawah saat musim tanam mengingatkan aku padanya terik matahari yang garang ingatkan aku akan kulit legamnya ayahku yang petani itu kadang merenung di dangau ketika melepas lelah mungkin memikirkan harga pupuk yang menjulang atau harga gabah yang terus merosot ayahku yang petani itu hanya bisa mengisap rokok lintingannya di dangau ketika melepas lelah, |