delapan hari kemarin aku sangat menantikan tibanya hari ini delapan hari kemarin aku menghitung pergantian waktu dari jam ke jam melalui malam dengan harapan, menyambut pagi dengan harapan dan meninggalkan sore dengan harapan.
setelah ia terbenam, dalam! harapan itu membuncah kembali ketika delapan hari yang lalu denting yang sangat ku rindukan mengalun menuntun jiwaku yang saat itu telah bingung, tak tahu harus melangkah kemana tak pasti arah yang dituju.
delapan hari kemarin ketika lega gantikan sesak di dadaku ketika cemas menguap, bersama tawaku aku menari tak peduli tatap dan tanya mereka
delapan hari kemarin ketika denting itu kembali mengalun delapan hari kemarin ketika asa hadir kembali delapan hari kemarin ketika senyum mekar kembali kunantikan hari ini dari waktu ke waktu
namun ketika delapan hari berlalu ketika penantian hanya tersisa beberapa menit aku menjadi takut akan hari ini karena mereka memberi ultimatium karena mereka tidak setuju pada delapan hari berikutnya
aku inginkan denting itu aku rindukan denting itu manjakan telingaku dengan lagunya yang mendayu wahai mereka bolehkah ada delapan hari lagi?
mereka adalah teman-teman yang sangat sayang aku mereka tidak izinkan aku begitu lama dalam kegamangan ini |