maka hari ini adalah puncak dari semua penantian yang pernah kulakoni adalah penantian terpanjang saat ini menunggumu kembali terbit dari balik awan di timur gunung itu detik-detik jelas terasa betapa hari ini sangat panjang betapa waktu ini sangat lama dalam penantianku menunggu terbitmu menanti senyummu matahariku
kan kususuri kembali menitinya langkah demi langkah tuk kembali kepadanya di sisi orang2 yang sayang padaku jika kutemukan jalan itu kan kususuri lagi tuk kembali kepadanya bertemu, tertawa bersama jadi tak perlu kumenerawang seperti ini
aku ingin pulang aku ingin pulang duduk bersamamu mendengar lagumu
usah kau lara ingin kubisikkan kalimat itu demi mendengar problemamu yang tak henti guncang hidupmu mungkin bisa memberimu sedikit asa mungkin bisa membuatmu tegar
usah kau lara ingin kubagi kalimat itu sembari ulurkan tangan tuk bimbing langkah olengmu mungkin bisa sempurnakan berdirimu mungkin bisa arahkan jalanmu
usah kau lara ingin kulihat lagi senyum di bibirmu mendengar kalimat2 ceriamu mungkinkah aku bisa? mungkihkan engkau bisa?
dia saudara sepupuku. dia bukan satu2 nya saudara sepupuku. masih banyak saudara sepupu yang lain dari pihak ayah dan ibu, tapi dia menjadi istimewa bagi aku. berbeda dari saudara sepupu yang lain
aku menyebutnya my all kadang2 aku menyapanya sin singkatan dari cousin. aku dekat banget dengannya. ketika masih di watampone, kami tidak terpisahkan. dimana ada aku, disitu ada dia. pernah aku menolak tawaran kerja hanya karena kantor itu cuma butuh satu pegawai baru. kantor itu ga bisa nerima aku dan “sin” tapi seiring waktu, kami pun terpisah. kami jarang bertemu sekarang, karena sudah sama2 sibuk, tapi jika ada waktu luang bergantian kami saling mengunjungi.
minggu ketiga desember tahun lalu, dia kunjungi aku. kami ngobrol, makan, belanja, pendeknya melakukan hal2 yang menyenangkan. dalam perjalanan pulang dari tempatku, sore harinya, dia mengalami kecelakaan. waktu itu dia sempat sms, katanya sekitar 10 menit lagi dia tiba di rumahnya. tapi ternyata dia malah tiba di rumah sakit setelah sebelumnya tabrakan dengan pengendara sepeda motor lainnya. menurut keterangan saksi, sepupuku yang nabrak orang, laju motor sepupuku kenceng banget. aku percaya hal itu, karena aku tau banget dia suka ngebut.
hari itu juga, selepas magrib, aku ke watampone. aku mendapati dia terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. jam tiga dinihari aku bicara dengan dia. aku senang dia telah sadar. setelah bicara beberapa kalimat, aku putuskan pulang pagi harinya, karena aku harus masuk kerja. pada pertemuan berikutnya saat lebaran aku baru tau bahwa sebenarnya jam tiga dinihari itu dia belum sadar. dia tidak tau kalo aku datang malam itu ke rumah sakit. dia baru tau setelah aku ceritakan semuanya.
alhamdulillah sekarang dia mulai membaik. walau sakit di kepalanya belum pulih, tapi dia sudah bisa duduk. dia memintaku pulang. dia memintaku ada di watampone bersamanya, karena dia pengen diantar ke kantornya. setelah kejadian itu dia trauma membawa motor. mendengar suara motor ngebut saja dia spontan bergidik.
aku sedih setelah mendengar permintaannya. disaat dia membutuhkan aku, aku tidak bisa berada disampingnya. karena saat yang sama, aku pun harus melaksanakan tanggung jawabku di tempat kerja. sin, maafkan aku.
masih banyak saudara sepupu kami yang lain, yang tinggal satu kota dengannya namun dia tetap meminta aku yang menemaninya. duh sin, aku benar2 minta maaf. weekend besok insya allah aku main ke tempatmu.
mungkinkah ia ada ketika hati ini mendamba akankah dia tiba saat rindu ini mendera
berbilang hari aku menunggu ketika sebaris kalimat kulayangkan sekedar bertanya kabar tiada layanan sebagai jawab membuat aku terpaku, terpekur dalam tanya ada apa kenapa masihkah bunga ini kau damba masihkan cinta ini kau puja masihkan diri ini kau rindu
tiga setengah jam aku berada di sana. satu setengah jam aku gunakan membereskan urusanku. selebihnya aku gunakan tuk mengawasi mereka. awalnya aku duduk di kursi depan, tapi kemudian aku pindah ke deretan belakang. aku ingin puas mengawasi mereka. mengawasi langkah yang tertatih, muka yang arif, senyum yang bijak, dan kesabaran yang tergambar jelas di muka-muka renta namun masih cerah.
aku berdoa semoga tidak ada yang memprotes keberadaanku yang mungkin paling lama di deretan kursi itu. kendati seperti orang bingung, ntah menunggu apa, tapi aku tetap bertahan. melihat mereka, mengingatkan aku akan wajah arif ayah ibuku. damai rasanya memandang muka2 itu.
ramah dan bersahabat. seorang ibu menyapaku, menjadi teman ngobrol saat dia ngantri menunggu namanya disebut. tanpa malu-malu aku bersandar di bahunya. mengelus-elus lengannya. ya, aku mencari kehangatan seorang bunda di sana. sayang semua itu tidak berlangsung lama, karena tiba2 namanya disebut. dengan senyum teduhnya dia beranjak meninggalkan aku. diam-diam mataku basah. ibu, jika saja aku masih memilikimu. ayah jika saja aku masih bersamamu.
mereka masih berdatangan, mereka masih juga ngantri di kursi tunggu, namun aku harus beranjak. aku harus masuk kerja. kendati seperti tak rela melangkah, namun aku pergi juga. (mereka adalah pensiunan/janda pensiun yang menerima tunjangan di bri) dan setiap mengingatmu, kuhanya bisa titikkan air mata sekedar basahi hatiku yang gersang yang rindu akan belaimu namun kusadar, ta mungkin lagi ku jumpa dirimu ketika aku pulang nanti ke rumah ayah bunda, selaksa rindu bebani hatiku!
alhamdulillah rasa syukur yang tak terhingga, teruntuk kepadamu sang pencipta atas karunia, izin, kesehatan yang memadai sehingga hamba masih dapat memasuki tahun 2007.
doa, seperti kemarin insya allah tetap hamba lafazkan untuk mendapat petunjuk dan bimbinganmu menjalani kehidupan di tahun 2007.
harapan selalu ada di dada hamba untuk menjadi motivasi untuk menjadi pendorong langkah ke depan.