di antara debur ombak di atas bebatuan terduduk aku lepas pandangku ke pantai mencari titik nun disana adakah dirimu kan berlabuh?
temaram hantarkan sepi bersama dingin yang membelai sepoi sepi sepi yang selimuti hatiku sepi ini di pecahkan ombak yang menghempas batu sepi ini hanyut bersama riak gelombang
jingga di cakrawala ku tau mentari ada disana, hendak bersemayam melewatkan separuh hari di belahan lain dan akan kembali lagi disini, esok, menyapa aku, kamu, kita, bumi! matahari benar2 akan kembali
jauh dirimu di seberang laut, di balik gunung, ach entah dimana kau berada tak pernah aku pasti akan keberadaanmu namun aku yakin dirimu seperti matahari dirimu adalah matahariku kan kembali, esok, menyapaku
tuk seseorang yang jauh di tanah ini aku menantimu
cousin, ingat ga waktu kita masih kumpul dulu. ketika itu freedom adalah prinsip kita. no boy, no love, no job, no everything. kita kere banget. hahahhaha i’m so miss the time. dan aku pikir kita bisa do it now. kamu tinggalin kerjaanmu dulu gih. and tomorrow we have fun. aku tunggu besok.
hmmm, sms sepupuku itu sangat menggoda. hari ke empat dia getol sms aku, ngajakin aku ke watampone buat nonton perhelatan olahraga se sulsel (porda) yang di gelar di tanah lahirku. asli aku ngakak membacanya. ya jadi inget dulu, waktu kami masih sama2 disana dengan prinsip merdeka itu. ya merdeka menurut kami seperti itulah ya no boy ampe no everything itu. aku jadi kangen juga ama tawa kami dulu. yang lepas, yang bahagia, tanpa beban . tanpa mikirin kerjaan. ooow santainya dulu, nikmatnya dulu. walo sekarang hidupku pun nikmat (aku menikmatinya) tapi kalo ingat yang dulu2 ya jadi kangen lagi.
i’ll be back, cousin. waiting for me. i miss u too, i miss all about our day, bout our town
kemarau panjang pepohonan meranggas daunnya menguning, lunglai tiada berdaya akhirnya gugur satu2, melayang hingga ke bumi berserakan di rerumputan yang telah kecoklatan meregang nyawa
kemarau panjang tanah retak menganga bak ingin telan kaki yang menjejaknya berdebu angin kering terbangkannya
kemarau panjang sungai tak ubahnya ular yang berdiam diri mendekam pasrah di bumi, lapar tiada gerakan, bahkan tarikan napasnya pun telah satu2 tiada riak air disana yang berkilau ditimpa cahaya
kemarau panjang asap membumbung tinggi hutanku, hutan kamu, hutan dia, terbakar pandangan terhalang ada apa di depan sana, tak tahu pasti samar, membingungkan
ketika matahari memilih sembunyi berlindung dibalik tebalnya kabut tak sedikitpun tunjukkan dirinya pun segaris cahayanya tak terbagi tukmu mampukah dirimu tuk tidak menangis?
ketika rembulan memilih menyepi berselimut di balik pekat awan tak secercah pun sinarnya ada pun separuh wajahnya tak nampak mampukah dirimu tuk tidak menangis?
ketika bintang memilih sendiri redupkan sinarnya nun disana tak berbagi kepada langit bumimu pun rasinya tak terlihat mampukah dirimu tuk tidak menangis?
ketika angin memilih berhenti tertahan dibalik punggung gunung tak sedikitpun desirnya berlalu pun semilir hembusnya tak belai dirimu mampukah dirimu tuk tidak menangis?
ketika hujan memilih menjauh sembunyi dibalik mendung tak setitikpun airnya menetes pun gerimisnya tiada mampukah dirimu tuk tidak menangis?
ketika embun memilih diam mengering di ujung daun tak setetes tersisa pun sejuknya hilang menguap mampukah dirimu tuk tidak menangis?
pukul 16 lewat sekian menit, listrik padam. uhg kesal juga, akhir2 ini listrik selalu saja padam selama dua jam setiap hari. tidur! pilihan berikutnya tuk ngisi waktu. apalagi semalam memang aku telat tidur tapi tadi pagi malah cepet banget bangun. tidak butuh waktu lama buat terlelap. benar2 lelap sampai aku ga sadar lagi kapan andev dan fara ikut berbaring di sampingku.
getaran hape di saku buatku terbangun. dengan mata setengah terbuka, aku baca sms itu. lepas baca sms, aku coba tidur lagi. listrik belum nyala juga. ah kali ini tidak sukses tidur.
pikiran tiba2 keluar jalur. mata terpejam, tapi pikiran koq menerawang jauh. aku ingat seseorang yang jauh. ya seseorang yang punya arti dalam hidupku. mataku basah. perlahan air merembes pelan di pipiku. aku rindu padanya. aku rindu sekali. tangis yang tadinya mengalir pelan, berubah jadi tangis yang kuat. demi menahan isakanku, tubuhku sampai bergetar.
kau yang jauh, apa kabar kini. mengapa harus ada jarak antara kita? dimanapun kini, jaga dirimu. cinta dan rindu, selalu ada di sini